Kamis, 31 Desember 2009

Makalah
Pengantar Ekonomi Pembangunan

Masalah Pengangguran










Nama : Firly agustia
Kelas : 2 DD 04
NPM : 30208512







Daftar Isi


Kata Pengantar..................................................... ii

Latar Belakang...................................................... 1

Pengertian............................................................. 1

Jenis & Macam Pengangguran............................... 2

Faktor – faktor...................................................... 3





















KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kepada pembaca tentang pengangguran.
Makalah ini berisi beberapa informasi tentang pengangguran yang terdapat di kota Bekasi,pengertian pengangguran,macam-macam pengangguran, serta faktor – faktor dari pengangguran.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.









ii
A. Latar Belakang
Pengangguran dan kemiskinan hingga saat ini merupakan masalah besar bangsa Indonesia yang belum bisa terpecahkan. Menurut data BPS Februari 2008, jumlah penganggur terbuka tercatat sebanyak 9,43 juta orang (8,46%) per Agustus 2008 berjumlah 9,39 juta orang ( 8,39 %) dari total angkatan kerja sekitar 111,4 juta orang. pengangguran terbuka didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) besar 17,26 %, Sekolah menengah Atas (SMA) sebesar 14,31 %, Perguruan Tinggi (PT) 12,59%, Diploma 11,21 %, lulusan SMP, 9,39 % dan lulusan Sekolah Dasar (SD) 4,57 %, dari jumlah penganggur.

Jumlah penganggur tersebut diperkirakan akan bertambah dengan adanya krisis keuangan global sebesar 20 juta orang sehingga dari jumlah penganguran di tahun sebelumnya sebesar 190 juta orang, akan bertambah menjadi 210 juta orang di tahun 2009.

B. Pengertian
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.

1
C. Jenis & macam pengangguran
 Pengangguran Friksional / Frictional Unemployment
Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan kondisi geografis antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerjaan.
 Pengangguran Struktural / Structural Unemployment
Pengangguran struktural adalah keadaan di mana penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja. Semakin maju suatu perekonomian suatu daerah akan meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.
 Pengangguran Musiman / Seasonal Unemployment
Pengangguran musiman adalah keadaan menganggur karena adanya fluktuasi kegiaan ekonomi jangka pendek yang menyebabkan seseorang harus nganggur. Contohnya seperti petani yang menanti musim tanam, tukan jualan duren yang menanti musim durian.
 Pengangguran Siklikal
Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur akibat imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah daripada penawaran kerja.
Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen.
Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya.
2
Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.
Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.
D. Faktor – faktor Pengangguran
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran di Indonesia, antara lain: Pertama, jumlah pencari kerja lebih besar dari jumlah peluang kerja yang tersedia (kesenjangan antara supply and demand). Kedua, kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja (mis-match), Ketiga, masih adanya anak putus sekolah dan lulus tidak melanjutkan yang tidak terserap dunia kerja/berusaha mandiri karena tidak memiliki keterampilan yang memadai (unskill labour), Keempat, terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) karena krisis global, dan Kelima, terbatasnya sumber daya alam di kota yang tidak memungkinkan lagi warga masyarakat untuk mengolah sumber daya alam menjadi mata pencaharian. Dari kelima faktor tersebut, faktor pertama, kedua dan ketiga merupakan faktor dominan yang menyebabkan pengangguran di Indonesia. Dari gambaran tersebut di atas maka perlu dikembangkan program-program kewirausahaan pemuda dalam rangka mempercepat penurunan angka pengangguran.

Mengingat data pengangguran pemuda masih cukup tinggi, apabila tidak memperoleh perhatian yang serius mengakibatkan masalah sosial yang cukup tinggi pula. Beberapa masalah sosial yang diakibatkan oleh tingginya pengangguran diantaranya penyalahgunaan narkoba, kriminalitas, pergaulan bebas, premanisme, trafficing, dan lain sebagainya. Kondisi tersebut akan mengganggu pembangunan di segala bidang dan stabilitas nasional.








3




Daftar Pustaka



- www.google.com
- Wikipedia,masalh pengangguran
PENGANTAR EKONOMI PEMBANGUNAN
























NAMA : FIRLY AGUSTIA
NPM : 30208512
KELAS : 2 DD 04







BAB 11
PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN


Pendahuluan

Bagian terbesar dari Negara-negara yang termasuk dalam Negara-negara paling kurang berkembang, dalam daftar PBB berada dan berdekatan dengan daerah jalur kemiskinan. Daerah ini terletak di tengah-tengah Afrika, terbentang mulai dari gurun Sahara di Utara sampai Danau Nyasa di sebelah selatan. Daerah yang laen dimulai dari dua negri Yaman dan Afganistan, membentang ke timur lewat asia selatan dan beberapa Negara Asia timur.

Masalah kemiskinan di Pedesaan

Bank Dunia pada tahun 1980 telah menunjukan tiga aspek kemiskinan, yaitu :
1. Kemiskinan multi dimensional. Artinya, karena kebutuhan manusia itu bermacam-macam, maka kemiskinanpun memiliki banyak aspek. Dilihat dari kebijakan umum, kemiskinan meliputi aspek primer yang berupa miskin akan asset-aset, organisasi social dan politik, dan pengetahuan serta ketrampilan, danaspek sekunder yang berupa miskin akan jaringan social, sumber-sumber keuangan dan informasi.

2. Aspek-aspek kemiskinan tadi saling berkaitan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini berarti, bahwa kemajuan dan kemunduran pada salah satu aspek dapat mempengaruhi kemajuan dan kemunduran aspek lainnya.

3. bahwa kemiskinan adalah manusianya, baik secara individual maupun kolektif. Kita sering menengar perkataan kemiskinan pedesaan (rural proverty), kemiskinan perkotaan ( urban proverty),dan sebagainya.

Pembangunan Pertanian Sebagai Alternatif Strategi Unggul

Sementara ini Todaro (1978) telah mencatat, bahwa tampak adanya kesadaran para pakar ekonomi tentang pembangunan bahwa pembangunan pertanian bersama-sama pembangunan pedesaan, dianggap sebagai syarat mutlak bagi Negara di Negara dunia ketiga.

Pembangunan Pertanian di Indonesia

Pertanian di Indonesia pada umumnya dicirikan dengan masih banyaknya jumlah pertanian kecil. Ciri umum petani kecil itu adalah pemilikan lahan sempit, dan sumber pendapatan mereka umumnya tidak hanya berasal dari sector pertanian saja.

1. Program peningkatan Produksi Pertanian
Keberhasilan program peningkatan produksi pertanian pangan terutama dilandasi oleh keberhasilan program Bimas yang dimulai pada tahun 60’an.

2. Program Bimas dan Inmas
Dalam program bimas salah satu manfaatyang dapat dirasakan oleh petani yang berlahan sempit dengan pemilikan asset yang terbatas adalah komponen kredit. Sedangkan petani dalam program Inmas diartikan sebagai petani yang tidak memperoleh fasilitas kredit tetapi menggunakan teknik baru dalam pertanian.

3. Pelayanan KUD
Telah banyak disinyalir bahwa peranan Koperasi Unit Desa (KUD) belum dapat menjangkau masyarakat petani di Pedesaan. Pelayanan KUD meliputi pelayanan dalam menyediakan saprotan, pengolahan hasil, penjualan hasil, dan kegiatan lainnya.

4. Kebijakan Harga Pertanian
Kebijakan harga hasil pertanian merupakan salah satu kebijaksanaan yang secara langsung dapat mempengaruhi kesejahteraan petani. Kebijakasanaan harga khususnya untuk beras dan padi yang dilaksanakan oleh pemerintah melalui penetuan harga tertinggi dan harga dasar gabah, terlihat telah mencapai sasaran yang diharapkan.

5. Diversifikasi Hasil Pertanian
Selama ini pemerintah terlalu menitikberatkan keberhasilan pertanian pangan, khususnya beras sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja.


Menuju Pertanian Tangguh

1. Kebijaksanaan Deregulasi
Secara spesifik, pemerintah perlu berperan sebagai pelaku ekonomi juga sebagaimana pelaku ekonomi lainnya di sector swasta. Oleh karena itu, pemerintah juga memberikan pelayanan baik selaku produsen maupun konsumen. Kebijaksanaan pertanian masih diperlukan jika petani dan konsumen belum sepenuhnya reponsif terhadap mekanisme harga.

2. Penelitian dan Perkembangan (R & D)
Perkembangan industri agrobisnis dapat meningkatkan daya saing komoditas ekspor nonmigas dari sector pertanian. Program – program R&D semacam ini seharusnya segera dilaksanakan secara luas dan mendalam pada aspek-aspek ekonomi pertanian maupunoleh perguruan tinggi.

3. Perkembangan Agrobisnis
Unsur kunci dari strategi agrobisnis seharusnya memasukkan elemen-elemen kebijakasanaan yang dapat memberikan :
• Iklim yang kondusif bagi awal perkembangan industri Agrobisnis.
• Rangsangan yang tepat bagi para petani maupun bagi perusahaan agrobisnis.
• Adanya kebijaksanaan target dari komoditas – komoditas terpenting secara social ekonomi bagi daerah-daerah tersebut..
• Perencanaan secara matang dalam memaksimumkan penggunaan fasilitas prasarana yang tersedia.

Perkembangan Industri Pedesaan

Di Indonesia yang dimaksud dengan industri pedesaan adalah industri yang terletak di pedesaan, dimiliki oleh masyarakat atau penduduk pedesaan, menggunakan metode produksi padat karya dan tenaga kerja kebanyakan didapatkan dari sekitar desa. Industri pedesaan memepunyai cirri – cirri sebagai berikut :
• Berbentuk industri rumah tangga atau cottage industry dengan tenaga kerja kurang dari 5 orang.
• Kebanyakan tenaga kerja diperoleh dari rumah tangga sendiri, dari saudara atau sanak keluarga lainnya sebagai tenaga kerja tidak di upah.kalaupun mereka kerja dibayar, pada umumnya hubungan antara tenaga kerja dengan pemilik atau manajer adalah sangat tidak formal.
• Teknologi yang digunakan bersifat tradisional, sangat sederhana dan menggunakan lebih banyak tenaga tanpa mesin (manual process).
• Bahan dasar umumnya didapat dari pedesaan setempat atau desa sekitarnya.
• Pemasaran dari hasil produksi tidak didasarkan pada promosi atau iklan pada umumnya sudah di tangan tengkulak.
• Industri ini selalu merupakan kegiatan pekerjaan tambahan untuk menambah pendapatan keluarga.



BAB 12
STRATEGI INDUSTRIAL

Pendahuluan

Selain terbukti membawa hasil yang gemilang di Negara – Negara barat, ISI juga telah berhasil menunjukkan kejayaannya terutama dalam perannya dalam memperbaiki kondisi perdagangan. Kejayaan ISI itu sendiri dimungkinkan oleh adanya tiga argumentasi yang mendukung.
1. ISI dapat memberikan banyak keuntungan manfaat ekonomi dan social sampingan. Terutama perolehan manfaat dalam bentuk pengetahuan teknologi dan ketrampilan para pekerja yang akan meningkatkan perusahaan.
2. khususnya untuk Negara besar supaya industri pengganti impor dapat memberikan efek rasio yang lebih baik dari pada industri yang mengembangkan ekspor.
3. upaya mengganti impor barang manufaktur merupakan suatu cara untuk menggunakan informasi pasar yang lebih murah dan mudah.





Model dan Tahapan Industrialisasi

Dalam literatur – literatur pembangunan pada umumnya memandang dan mengartikan industrial sebagai proses yang mampu menghadapi masyarakat agraris yang statis menjadi masyarakat industri yang lebih dinamis. Biasanya proses tersebut dianggap sebagai syarat perlu atau necessary condition untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menciptakan tenaga kerja yang lebih besar, menyesuaikan kebutuhan dasar manusia untuk penduduknya.

Strategi Industrialisasi Substitusi Impor

Pada bagian terdahulu telah disebutkan adanya tiga argument yang memperkuat dan mendukung perlunya dilakukan industrialisasi substitusi impor di Negara-negara sedang berkembang sebagai syarat yang perlu dalam perkembangannya. Walaupun demikian pada umumnya ada beberapa harapan dari dilaksanakannya strategi tersebut, yaitu :
• Sumber-sumber ekonomi yang relative cukup tersedia dalam negeri seperti bahan baku dan tenaga kerja.
• Respon permintaan barang-barang industri dari Negara-negara maju masih rendah
• Mengurangi akibat-akibat kestabilan pasar internasional terhadap pasar di dalam negri.
• Untuk mendorong industri di dalam negri supaya lebih berkembang.

Strategi Industrialisasi di Indonesia

Proses industrialisasi Indonesia masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok-kelompok Negara berkembang yang berpendapatan menengah rendah (lower middle income countries). Untuk memahami dan mengetahui proses industrialisasi di Indonesia ada baiknya kita liat sejarah perjalanan industrialisasi di Indonesia pada masa pelita maupun sebelumnya.


BAB 13
STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN

Pendahuluan

Gambaran kemiskinan secara ilmiah pada awalnya dapat diketahui dari studi yang dilakukan oleh Montek S. Ahluwalia pada tahun 1969. ahluwalia dalam analisnya menunjukkan keadaan distribusi pendapatan mutlak di berbagai Negara berkembang dengan melihat jumlah penduduk yang menerima pendapatan dibawah garis kemiskinan.




Kebijaksanaan dan Hasil yang Dicapai

Kemiskinan timbul karena ada sebagian masyarakat yang belum ikut serta didalam pembangunan sehingga belum dapat menikmati hasil pembangunan secara memadai. Keadaan ini disebabkan oleh keterbatassan dalam pemilikan dan penguasaan factor produksi sehingga kemampuan masyarakat dalam menghasilkan dan menikmati hasil-hasil pembangunan belum rata dan belum seimbang.pelaksanaan pembangunan nasional yang di jabarkan dalam program pembangunan sektoral, regional, dan khusus.

Kebijaksanaan Dasar Pengentasan Kemisinan

Kebijaksanan penanggulangan kemiskinan dapat di kategorikan dalam beberapa kategori :
1. Kebijaksanaan tidak langsung, kebijaksanaan tidak langsung di arahkan pada pencipta kondisi yang menjamin kelangsungan setiap upaya penanggulangan kemiskinan . kondisi yang di maksudkan antara lain adalah suasana social politik yang tentram, ekonomi yang stabil dan budaya yang berkembang. Upaya pengelolaan ekonomi makro yang berhati-hati melalui kebijaksanaan keuangan dan perpajakan merupakan bagian dari upaya menanggulangi kemiskinan.

2. Kebijaksanaan langsung, diarahkan kepada peningkatan peran serta dan produktifias sumber daya manusia, khususnya golongan masyarakat berpendapatan rendah, melalui penyediaan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, perumahan, kesehatan dan pendidikan, serta perkembangan social ekonomi yang berkelanjutan untuk mendorong kemandirian golongan masyarakat berpendapatan rendah. Pemenuhan kebutuhan dasar akan memberikan peluang bagi penduduk miskin untuk melakukan kegiatan social ekonomi yang dapat memberikan pendapatan yang memadai.

3. Kebijaksanaan khusus (Program IDT), Arah dari kebijaksanaan khusus adalah mempersiapkan masyrakat dan meningkatkan kemampuan aparat daerah yang bertanggung jawab langsung dalam merencanakan , melaksanakan, memantau pelaksanaan program pembangunan, dan sekaligus memacu serta memperluas upaya untuk meningkatkan pemerataan pembangunan dan penanggulangan kemiskinan. Kebijaksanaan khusus dilaksanakan secara terpilih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kesiapan aparat daerah setempat.

a. Pengertian,
IDT mengandung dua arahan penting, yaitu pertama, instruksi untuk mengkoordinasikan semua program pembangunan sektoral, reginal, dan khusus yang ditujukan untuk menanggukangi kemiskinan. Kedua, pemberian dana sebagai modal bagi masyarakat desa miskn untuk membangun dirinya sendiri melalui kegiatan social-ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.



b. Tahapan,
Tahapan persiapan, telah dimulai dan akan berlangsung sampai dengan awal dimulainya program IDT dalam tahun anggaran 1994/95. Tujuanya adalah untuk memberikan pemahaman yang sama atau sosialisasi tentang hakikat dan makna program IDT kepada masyarakat serta aparat pelaksana program IDT.
Tahap pelaksanaan, program IDT dimulai tahun anggaran 1994/95 sampai dengan akhir Repelita VI. Kegiatan utama dalam tahap ini adalah pendayagunaan dana IDT oleh penduduk miskin disertai pendampingan yang efektif, serta koordinasi program pembangunan sektoral dan regional yang miskin tersebut.

c. Pelatihan berjenjang,
Pelatihan berjenjang dilakukan untuk mempersiapkan masyarakat dan aparat yang terkait dengan pelaksanaan IDT. Kegiatan pelatihan berjenjang di awali dengan berbagai kesempatan menyaankan presepsi si antara aparat pemerintah di tingkat pusat serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Pada tahap berikutnya pelaksanaan pelatihan bagi pelatih di tingkat propinsi di selenggarakan di Jakarta tanggan 18-22 Oktober 1993.

d. Pendampingan,
Pelaksanaan IDT berorientasi pada peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan penduduk miskin dengan mengikutsertakan segala lapisan masyarakat dalam proses pembangunan .ini berarti bahwa pembangunan yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan untuk dinikmati oleh masysarakat sendiri, secara berkesinambungan.

e. Komitmen Bersama,
Strategi penanggulangan kemiskinan yang bertumpu pada peran serta dan produktifitas rakyat merupaakaan strategi yang berkesinambungan dan menumbuhkan kemandirian peduduk miskin. Penyelenggaraan program impress desa tertinggal(IDT) yang akan dimulai dalam tahun anggaran 1994/95 merupakan bagian dari upaya besar untuk menanggulangi kemiskinan dan telah di canangkan sebagai gerakan nasional penaggulangan kemiskinan.