BAB 5
DUALIESME MASYARAKAT DAN DUALISME EKONOMI
PENDAHULUAN
• Dualisme artinya bahwa dalam waktu yang sama di dalam masyarakat terdapat dua gaya social yang jelas berbeda satu sama lain, dan masing – masing berkembang secara penuh serta saling mempengaruhi. Dalam dualisme masyarakat, salah satu system social yang menonjol biasanya termaju, diimpor dari luar negri dan hidup dalam lingkungan baru tanpa berhaasil menyisihkan atau menyerap system social lain yang telah lama tumbuh disitu. Akibatnya, dari system kedua ini tdak ada yang meluas, dan malah keduanya menjadi ciri khas masyarakat yang bersangkutan.
• Dualisme ekonomi yaitu kegiatan ekonomi dan keadaan ekonomi serta keadaan yang lain dalam masa tertentu, atau dalam suatu sector ekonomi tertentu ysng memiliki sifat tidak seragam.
• Dualisme ekonomi ini dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu ekonomi tradisional dan ekonomi modern.
• Kelompok ekonomi tradisional berarti kegiatan ataupun keadaan ekonomi yang ada masih dikuasai oleh unsur ketradisionalan.
• Kelompok ekonomi modern, berarti berbagai kegiatan dan keadaan ekonomi yang sedang berlangsung dikuasai oleh unsur – unsur yang bersifat modern.
• Menurut Boeke (1953), dualism social adalah bahwa dalam masyarakat terdapat dua system yang berbeda, dan keduanya hidup saling berdampingan.
• Pakar ekonomi Myint (1967) dan Higgins (1968) mengamati adanya dualism teknologi. Mereka berpendapat bahwa dualism teknologi adalah suatu keadaan dimana di dalam suatu bidang kegiatan ekonomi digunakan teknologi dan organisasi produksi yang mengkutub.
• Selanjutnya, Arthur Lewis (1970), kemudian John Fei, dan Gustaf Ranis (1975) mengemukakan anggapan dualitas social ekonomi dalam pembangunan dan pertumbuhan di Negara – Negara yang kelebihan tenaga kerja. Menurut konsep ini, kelebihan tenaga kerja bias di alihkan dar sector tradisional yang subsisten untuk meningkatkan produksi non pertanian.
• Sementara Todaro (1978) mengatakan bahwa konsepsidualisme semacam ini telah menjadi bahan pembicaraan secara luas dalam ekonomika pembangunan menunjukan adanya beberapa elemen dalam ekonomika pembangunan.
FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB DUALISME
• Ada empat factor yang melatar belakangi atau menjadi sebab lahirnya dualisme ekonomi, yaitu :
• Adanya kebijakan yang memiliki dua dimensi, yaitu kebijakan untuk mempertahankan agar surplus sector pertanian tetap berada di dalam negri daripada dibawa ke luar negri seperti masa penjajahan.kebijakan untuk mengalihkan surplus sector pertanian ini ke sector industry, dan ekspor seperti semula.
• Adanya pengaruj dari pola perumbuhan ekonomi terutama yang terjadi di Negara – Negara asia.
• Hal yang menyangkut ratio antara manusia dan tanah.
• Lemahnya perekonomian nasonal.
DUALISME DI NEGARA SEDANG BERKEMBANG
• Adanya berbagai macam dualitas tersebut menimbulkan keadaan yang menyebabkan mekanisme pasar tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
• Ciri ekonomial adalah adanya dualism anatara kota yang maju dan tempat lokasi industri barang konsumsi dengan desa yang terbelakang tempat dominasi tenaga kerja berlebih.
• Sektor ekonomi yang telah mendapat proteksi lambat laun cenderung menggunakan teknologi padat modal dari luar negeri.
STRATEGI MENGATASI DUALISME
• Tidak ada cara terbaik ntuk mengatasi dualism, kecuali melalui strategi pembangunan yang konkrit dan terencana.oleh karena itu persoalan mendasar yang melekat pada masalah dualisme bias jadi lebih dominan pada dimensi sejarah yang melahirkan dualisme itu sendiri.
• Strategi redistribusi dengan perubahan (redistribution with growth) juga berusaha menggabungkan usaha pemerataan dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Penekanan strategi ini adalah penyaluran kembali (realokasi) dana – dana investasi baru, terutama dari pemerintah kegolongan penduduk yang paling miskin, sehingga mereka dapat memupuk harta produktf yang dapat meningkatkan produktifitas dan pendapatan mereka.
BAB 6
MASALAH KEMISKINAN DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
PENDAHULUAN
• Masalah kemiskinan ternyata teramat kompleks dan pemecahan – pemecahannya pun tidak terlalu mudah.
• Masalah kemiskinan muncul karena ada sekelompok anggota masyarakat yang secaara structural tidak mempunyai peluang dan kemampuan yang memadai untuk mencapai tingkat kehidupan yang layak. Akibatnya, ia harus mengakui keunggulan kelompok masyarakat lainnya dalam pencarian nafkah dan pemlikan asset produktif, sehngga semakin lama semakin tertinggal. Dalam prosesnya gejala tersebut memunculkan persoalan baru yani ketimpangan distribusi pendapatan.
KAITAN KEMISINAN DENGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
• Kaitan kemskinan dengan distribusi pendapatan secara sederhana dapat dilukiskan dengan menggunakan kerangka kemungkinan produksi (the productin possibility framework).
• Produksi dalam hipotesis perekonomian yang sedang berkembang dibagi menjadi duakelompok barang.pertama, barang kebtuhan pokok, seperti makanan pokok, pakaian dan tempat tinggal. Kedua, barang konsumsi mewah.
BERBAGAI DIMENSI MASALAH KEMISKINAN
• Ciri – ciri kemiskinan :
1. Kemiskinan multidimensional, artinya karena kebutuhan manusia itu bermacam – macam, maka kemiskinan pun memiliki banyak aspek.
2. Aspek – aspek kemiskinan saling berkaitan, bak sacara langsung maupun tidak langsung.
3. Bahwa yang miskin adalah manusianya, baik secara individual maupun kolektif.
• Para pemikir tentang kemiskinan kebanyakan melihat kemiskinan sebagai kemisknan structural. Kemiskinan structural ialah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur social masyarakat tersebut tidak dapat ikut menggunakan sumber – sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia untuk mereka.
• Kemiskinan absolute diartian sebagai keadaan masyarakat atau individu denganuran kebutuhan minimum(substance_ dalam memenuhi hidup dan terletak dibawah garis kemiskinan (provelity lines) menggunakan criteria tertentu.
KRITERIA KEMISKINAN
• Untuk menetukan status kemiskinan suatu desa diperlukan suatu indicator komposit baku yang merupakan gabungan dari berbagai factor yang menunjukkan ciri – cirri kemiskinan, yang dipilih dan diolah dari 27 variabel dalam 3 kelompok, yaitu : 1. Potensi desa(podes) dan fasilitas desa, 2. Keaaan perumahan dan lingkungan, dan 3. Keadaan penduduknya.
DISTRIBUSI PENDAPATAN
• Distrbusi pendapatan perorangan atau distribusi ukuran adalah yang paling umum digunakan oleh para ekonom.
• Distribusi fungsional adalah bagian dari pendapatan nasional yang diterima oleh masing – masing factor produksi. Teori distribusi pendapatan fungsional merupakan persenase dari penghasilan tenaga kerja secara keseluruhan
STUDI TENTANG DISTRIBUSI PENDAPATAN DI INDONESIA
• Pertama, data pengeluaran. Pengukuran ketimpangan distribusi pendapatan di Indonesia diawali oleh R. M. Sundrum pada tahun 1973. Ia memperkirakan besarnya indeks Gini Indonesia( tidak termasuk Jakarta) untuk tahun 1964-2965 sebesar 0,389 berdasarkan data pengeluaran konsumsi masyarakat.
• Kedua, data pendapatan. Penelitian distribusi pendapatan berdasarkan jenis data pendapatan dirintis oleh Irlan Sujono dan Ahmad T. Birowo. Mereka dengan menggunakan data dari survey khusus mendapatkan angka koefisien Gini untuk daerah pedesaan jawa tengah 0,533 pada tahun 1968 dan 0,495 pada tahun 1973/75. Penurunan indeks Gini ini menunjukkan adanya perbakan pemerataan pendapatan di pedesaan jawa tengah.
• Ketiga, ekoonomi makro. Syamaprasad Gupta, dengan memakai model ekonomi dalam penelitiannya dan dengan memakai data dari ekonomi makro mendapatkan indeks Gini untuk Indonesia 0,422. Gupta kemudian mengistemasi indeks Gini tahun 1985 dan 1997, masing –masing 0,545 dan 0,561.
• Keempat, Sistem Neraca Nasional Indonesia (SNSE). Slamet Sutomo dan Nina Sari Sulistini(1987), dengan memakai SNSE berusaha mengetahui pola penerimaan dan pengeluaran rumah tangga, dan keadaan distribusi pendapatan.
Rabu, 25 November 2009
BAB 7
MASALAH KEPENDUDUKAN, KETENAGAKERJAAN, DAN LINGKUNGAN HIDUP
PENDAHULUAN
Masalah penduduk sebenarnya sangat kompleks, banyak sekali aspek yang mencakup aspek didalamnya, diantara aspek pangan, pemukiman, sandang, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Lalu, apa saja konsekuensi yang mesti diterima oleh Negara – Negara yang sedang berkembang dengan laju pertumbuhan penduduk yang demikian cepat itu? Diantara beberapa konsekuensi tsb, ada tiga hal yang perlu dicatat yaitu : 1) jumlah angkatan kerja bertambah dengan cepat seiring engan cepatnya laju pertumbuhan penduduk, 2) rendahnya kemampuan Negara – Negara yang sedang berkembang untuk menciptakan kesempatan kerja tambahan, dan 3) semakin menurunnya daya dukung lingkungan terhadap kualitas kehidupan. Masalah – masalah lanjutan yang muncul kemudian adalah angka pengangguran semakin meningkat, urbanisasi, migrasi makin menjadi – jadi, dan last but not least, angka kejahatan dengan berbagai bentuk juga meningkat.
TEORI PERANGKAP PENDUDUK DARI MALTHUS
Reverend Thomas Malthus mengemukakan hubungan antara pertumbhan penduduk dan pembangunan ekonomi pada tahun 1798 dalam artikelnya berjudul Essay on the Principle of Population. Ia menjelaskan konsep hasil yang menurun (concept of diminishing return). Menurtnya kecenderungan pertumbuhan penduduk suatu Negara tumbuh menurut deret ukur, yaitu menjadi dua kali lipat setiap 30-40 tahun. Pada saat yang sama, hasil dari tanah menurun, persediaan pangan hanya tumbuh menurut deret hitung. Karena pertumbuhan persediaan pangan tidak bias mengimbangi pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dan tinggi, maka pendapatan per kapita masyarakat tani didefinisikan sebagai produksi pangan per kapita akan cenderung turun menjadi sangat rendah. Dapat ditemukan adanya 3 kritik utama terhadap teori Malthus dan Neo-Malthusian, yaitu:
1. Teori tsb tidak memperhitungkan peranan dan dampak dari kemajuan teknologi
2. Teori tsb didasarkan kepada suatu hipotesis mengenai hubungan secara makro antara pertumbuhan penduduk dan tngkat pendapatn per kapita yang tidak tahan uji secara empiris
3. Teori tsb menitik beratkan pada variable yang keliru, yaitu pendapatan per kapita sebagai factor penetu utama tingkat prtumbuhan penduduk. Suatu pendekatan yang lebih baik dan lebih abash untuk masalah penduduk dan pembangunan ini terpusat pada ekonomi mikro dari proses pembatan keputusan ukuran keluarga setiap individual (dan bukan agregat), serta tingkat kehidupan menjadi factor penetu utama dari keputusan keluarga apakah akan mempunyai lebih banyak ata lebih sedikit anak.
TEORI TRANSISI PENDUDUK
Teori transisi penduduk (demographic transition) berusaha untuk menjelaskan mengapa semua Negara-negara maju sekarang ini kurang lebih melalui tahap yang sama dalam sejarah kependudukan modern. Sebelum adanya modernisasi perekonomian Negara-negara tersebut selama berabad-abad sebagai kmbinasi dari tingginya tingkat kelahiran yang hamper sama dengan tingkat kematian. Tahap pertumbuhan seperti ini termasuk dalam tahap I. tahap II mulai terjadi pada saat modernisasi perbaikan kesehatan masyarakat, pendapatan yang lebih tinggi, dan kualitas makan yang lebih baik, menyebabkan penurunan tingkat kematian dan secara perlahan menaikan tingkat harapan hidup dari di bawah 40 tahun menjadi lebih dari 60 tahun. Penurunan tingkat kelahiran tahap III sebenarnya tidak di mulai pada abad XIX, tetapi beberapa dasawarsa setelah pertumbuhan ekonomi modern terjadi dan lama setelah penurunan tingkat kematian terjadi.
MIGRASI DAN PEMBANGUNAN
Beberapa tahun yang lalu migrasi dari desa ke kota di pandang sebagai hal yang menguntungkan dalam kajian pembangunan ekonomi. Migrasi internal di anggap sebagai suat proses yang alamiah dimana surplus tenaga kerja secara perlahan di tarik dari sector pedesaan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi pertumbuhan industri perkotaan. Proses tersebut di anggap bermanfaat secara social karena sumber daya manusia dipindahkan dari lokasi-lokasi dmana produk social marjinalnya sering di anggap sama dengan nol ke tempat-tempat dimana produk marjinal tersebut tidak hanya positif tetapi jga tumbuh dengan cepat sebagai akibat dari akumulasi modal dan kemajuan teknologi. Menurut Todaro (1985) migrasi juga sering di anggap sebagai proses yang bisa menghilangkan ketidak seimbangan structural desa-kota dengan dua cara langsung. Pertama, dari sisi penawaran migrasi internal yang tidak proporsional meningkatkan tingkat pertumbuhan pencari kerja perkotaan sehubungan dengan adanya pertumbuhan penduduk perkotaan. Kedua, dari sisi permintaan, penciptaan lapangan kerja perkotaan lebih sulit dari penciptaan lapangan kerja pedesaan karena kebtuhan sumber daya komplementer di sector industri.
1. Model tranformasi tenaga kerja dari Lewis.
dalam model Lewis ini, perekonomian di bagi menjadi dua sector yaitu sector tradisional (pedesaan subsisten) dan sector modern. Sector tradisional ditandai oleh produktifitas tenaga kerja yang sangat rendah atau bhkan nol. Sector modern (industry perkotaan) di tandai oleh perpindahan tenaga kerja, yaitu tenaga kerja dari sector subsisten berpindah secara perlahan. Titik perhatian utama model ini adalah proses perpindahan tenaga kerja dan pertumbuhan pengerjaan di sector modern.
2. Teori migrasi dari Todaro.
Todaro merumuskan bahwa migrasi berkembang karena perbedaan antara pendapatan yang di harapkan dan yang terjadi di pedesaan dan di perkotaan. Anggapan mendasarnya adalah bahwa para migrant tersebut memperhatikan berbagai kesempatan kerja untuk mereka dan memilih salah satu yang bisa memaksimumkan manfaat harapan mereka dengan bermigrasi. Secara singkat di sebutkan bahwa model migrasi dari Todaro menpunyai empat karakteristik utama yaitu sebagai berikut:
1. Migrasi terutama sekali di rangsang oleh pertimbangan ekonomis yang rasional.
2. Keputusan untuk bermigrasi lebih tergantung kepada perbedaan upah riil yang di harapkan dari pada yang terjadi antara pedesaan dan perkotaan.
3. Kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan di perkotaan berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran di perkotaan.
4. Tingkat migrasi yang melebihi tingkat pertumbuhan kesempatan kerja di perkotaan sangat mungkin terjadi.
3. Proses migrasi dan karakteristik para migran.
Mgrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah tertentu ke daerah lainnya. Migrasi ini di pengaruhi oleh banyak factor dan kompleks. Penekanan-penekanan tersebt antara lain di tujukan kepada.
1. Factor-faktr social
2. Factor-faktor fisikal
3. Factor-faktor demografis
4. Factor budaya
5. Factor-faktor komunikasi
MASALAH PENGANGGURAN
Pendapatan yang lazim di gunakan untuk mengukur tingkat penganguran di dasarkan pada pengertian angkatan kerja. Metode pengukuran ketenagakerjaan yang di pakai berasal dari Labor force Approach yang di perkealkan oleh ILO yang di gunakan d banyak Negara berkembang. Sejak tahun 1976 batasan waktu kerja dan periode refrensi yang di pakai sudah seragam, yaitu satu jam sehari dalam seminggu sebelum saat pencacahan. Beberapa pengertian yang berhubungan dengan pekerjaan adalah sebaga berikut :
1. Bekerja adalah mereka yang melakukan pekerjaan dengan tujuan memperoleh pendapatan.
2. Menganggur adalah mereka yang tidak menpunyai pekerjaan dalam kurun waktu seminggu sebelum pencacahan.
3. Bekerja tidak penuh adalah mereka yang bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu.
4. Kesempatan kerja adalah suatu tempat bagi seseorang angkatan kerja yang mendapatkan pekerjaan yang member imbalan.
5. Pendidikan adalah jenjang lamanya seseorang berada di sekolah formal.
MASALAH LINGKUNGAN HIDUP
Persoalan yang sering di kaitkan sebagai dampak dari pesatnya pertumbuhan penduduk dan meluasnya pengangguran adalah masalah lingkungan hidup. Sehingga muncul beragam pembahasan masalah kualitas lingkungan hingga konservasi lingkungan, dan sekarang masalah tersebut telah menjadi bagian penting dalam setiap pembicaraan baik di tingkat nasional maupun internasional. Lingungan hidup beralih dari permasalahan ilmiah menjadi masalah pemerintah.
1. Memelihara dan menghormati komunitas kehidupan.
Kita harus membagi dengan adil baik manfaat maupun biaya sumber daya yang digunakan serta biaya pelestarian lingkungan diantara masyarakat-masyarakat yang berbeda dan kelompok-kelompok yang bersangkutan, diantara mereka yang miskin dan kaya serta diantara generasi kita dan generasi yang akan datang sesudah kita.
2. Memperbaiki kualitas hidup manusia.
Tujuan pembangunan yang sesungguhnya adalah memperbaiki mutu hidup manusia. Ini sebuah proses yang memungkinkan manusia menyadari potensi mereka, membangun rasa percaya diri mereka, dan masuk ke kehidupan yang bermartabat dan berkecukupan.
3. Melestarikan daya hidup dan keragaman bumi.
Pembangunan yang berpijak pada pelestarian perlu disertai ke hati-hatian untuk melindungi struktur, fungsi, serta keragaman system yang alami, karena spesies kita sangat bergantung pada system-sistem tersebut. Prinsip ini menurut kita untuk :
1. Melestarikan system-sistem penunjang kehidupan, yaitu proses ekologi yang menjaga agar planet ini cocok untuk kehidupan.
2. Melestarikan keanekaragaman hayati, ini meliputi tidak saja semua spesies tumbuhan, hewan, dan organism lain, tetapi juga seluruh cadangan genetic dalam tiap spesies, dan keragaman ekosistem.
3. Menjamin agar penggunaan sumber-sumber daya yang dapat diperbaharui berkelanjutan. Sumber-sumber daya yang dapat diperbaharui mencakup tanah, organsme liar, dan peliharaan, hutan, padang pengembalaan, sawah dan ladang, serta laut dan ekosistem air tawar yang mendukung usaha perikanan.
4. Menghindari pemborosan sumber-sumber daya yang tak terbarukan.
Mineral, minyak, gas, dan batu bara praktis digolongkan sebagai sumber-sumber daya yang tak terbarukan. Tidak seperti tumbuhan, ikan, atau tanah, bahan-bahan ini tidak dapat digunakan secaa berkelanjutan
5. Berusaha tidak melampaui kapasitas daya dukung bumi
Batas-batas ini bervariasi antara daerah yang satu dan yang lainnya, dan tingkat gangguan bergantung pada beberapa orang disana, serta berapa banyaknya makanan, air, energy, dan bahan baku yang digunakan oleh tiap orang, juga limbah yang dihasilkan.
6. Mengubah sikap dan gaya hidup orang perorang
Masyarakat harus memperkenalkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan falsafah hidup berkelanjutan.
7. Mendukung kreatifitas masyarakat untuk memelihara lingkungan sendiri
Organisasi kemsyarakatan biasanya merupakan wadah yang paling mudah dimanfaatkan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang tinggi nilai sosialnya atau sebagai ajang untuk mengekspresikan kepedulian seseorang atau kelompok mengenai sesuatu. Menyediakan kerangka kerja nasional untuk memadukan upaya pembangunan dan pelestarian
8. Sebuah program nasional yang dimaksudkan untuk menciptakan kehidupan yang berkelanjutan dengan demikian harus melibatkan berbagai kepentingan, dan masalah-masalah yang bisa terjadi akibat perbenturan kpentingan-kepentingan itu harus dapat diketahui dan dicegah sebelum timbul.
MASALAH KEPENDUDUKAN, KETENAGAKERJAAN, DAN LINGKUNGAN HIDUP
PENDAHULUAN
Masalah penduduk sebenarnya sangat kompleks, banyak sekali aspek yang mencakup aspek didalamnya, diantara aspek pangan, pemukiman, sandang, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Lalu, apa saja konsekuensi yang mesti diterima oleh Negara – Negara yang sedang berkembang dengan laju pertumbuhan penduduk yang demikian cepat itu? Diantara beberapa konsekuensi tsb, ada tiga hal yang perlu dicatat yaitu : 1) jumlah angkatan kerja bertambah dengan cepat seiring engan cepatnya laju pertumbuhan penduduk, 2) rendahnya kemampuan Negara – Negara yang sedang berkembang untuk menciptakan kesempatan kerja tambahan, dan 3) semakin menurunnya daya dukung lingkungan terhadap kualitas kehidupan. Masalah – masalah lanjutan yang muncul kemudian adalah angka pengangguran semakin meningkat, urbanisasi, migrasi makin menjadi – jadi, dan last but not least, angka kejahatan dengan berbagai bentuk juga meningkat.
TEORI PERANGKAP PENDUDUK DARI MALTHUS
Reverend Thomas Malthus mengemukakan hubungan antara pertumbhan penduduk dan pembangunan ekonomi pada tahun 1798 dalam artikelnya berjudul Essay on the Principle of Population. Ia menjelaskan konsep hasil yang menurun (concept of diminishing return). Menurtnya kecenderungan pertumbuhan penduduk suatu Negara tumbuh menurut deret ukur, yaitu menjadi dua kali lipat setiap 30-40 tahun. Pada saat yang sama, hasil dari tanah menurun, persediaan pangan hanya tumbuh menurut deret hitung. Karena pertumbuhan persediaan pangan tidak bias mengimbangi pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dan tinggi, maka pendapatan per kapita masyarakat tani didefinisikan sebagai produksi pangan per kapita akan cenderung turun menjadi sangat rendah. Dapat ditemukan adanya 3 kritik utama terhadap teori Malthus dan Neo-Malthusian, yaitu:
1. Teori tsb tidak memperhitungkan peranan dan dampak dari kemajuan teknologi
2. Teori tsb didasarkan kepada suatu hipotesis mengenai hubungan secara makro antara pertumbuhan penduduk dan tngkat pendapatn per kapita yang tidak tahan uji secara empiris
3. Teori tsb menitik beratkan pada variable yang keliru, yaitu pendapatan per kapita sebagai factor penetu utama tingkat prtumbuhan penduduk. Suatu pendekatan yang lebih baik dan lebih abash untuk masalah penduduk dan pembangunan ini terpusat pada ekonomi mikro dari proses pembatan keputusan ukuran keluarga setiap individual (dan bukan agregat), serta tingkat kehidupan menjadi factor penetu utama dari keputusan keluarga apakah akan mempunyai lebih banyak ata lebih sedikit anak.
TEORI TRANSISI PENDUDUK
Teori transisi penduduk (demographic transition) berusaha untuk menjelaskan mengapa semua Negara-negara maju sekarang ini kurang lebih melalui tahap yang sama dalam sejarah kependudukan modern. Sebelum adanya modernisasi perekonomian Negara-negara tersebut selama berabad-abad sebagai kmbinasi dari tingginya tingkat kelahiran yang hamper sama dengan tingkat kematian. Tahap pertumbuhan seperti ini termasuk dalam tahap I. tahap II mulai terjadi pada saat modernisasi perbaikan kesehatan masyarakat, pendapatan yang lebih tinggi, dan kualitas makan yang lebih baik, menyebabkan penurunan tingkat kematian dan secara perlahan menaikan tingkat harapan hidup dari di bawah 40 tahun menjadi lebih dari 60 tahun. Penurunan tingkat kelahiran tahap III sebenarnya tidak di mulai pada abad XIX, tetapi beberapa dasawarsa setelah pertumbuhan ekonomi modern terjadi dan lama setelah penurunan tingkat kematian terjadi.
MIGRASI DAN PEMBANGUNAN
Beberapa tahun yang lalu migrasi dari desa ke kota di pandang sebagai hal yang menguntungkan dalam kajian pembangunan ekonomi. Migrasi internal di anggap sebagai suat proses yang alamiah dimana surplus tenaga kerja secara perlahan di tarik dari sector pedesaan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi pertumbuhan industri perkotaan. Proses tersebut di anggap bermanfaat secara social karena sumber daya manusia dipindahkan dari lokasi-lokasi dmana produk social marjinalnya sering di anggap sama dengan nol ke tempat-tempat dimana produk marjinal tersebut tidak hanya positif tetapi jga tumbuh dengan cepat sebagai akibat dari akumulasi modal dan kemajuan teknologi. Menurut Todaro (1985) migrasi juga sering di anggap sebagai proses yang bisa menghilangkan ketidak seimbangan structural desa-kota dengan dua cara langsung. Pertama, dari sisi penawaran migrasi internal yang tidak proporsional meningkatkan tingkat pertumbuhan pencari kerja perkotaan sehubungan dengan adanya pertumbuhan penduduk perkotaan. Kedua, dari sisi permintaan, penciptaan lapangan kerja perkotaan lebih sulit dari penciptaan lapangan kerja pedesaan karena kebtuhan sumber daya komplementer di sector industri.
1. Model tranformasi tenaga kerja dari Lewis.
dalam model Lewis ini, perekonomian di bagi menjadi dua sector yaitu sector tradisional (pedesaan subsisten) dan sector modern. Sector tradisional ditandai oleh produktifitas tenaga kerja yang sangat rendah atau bhkan nol. Sector modern (industry perkotaan) di tandai oleh perpindahan tenaga kerja, yaitu tenaga kerja dari sector subsisten berpindah secara perlahan. Titik perhatian utama model ini adalah proses perpindahan tenaga kerja dan pertumbuhan pengerjaan di sector modern.
2. Teori migrasi dari Todaro.
Todaro merumuskan bahwa migrasi berkembang karena perbedaan antara pendapatan yang di harapkan dan yang terjadi di pedesaan dan di perkotaan. Anggapan mendasarnya adalah bahwa para migrant tersebut memperhatikan berbagai kesempatan kerja untuk mereka dan memilih salah satu yang bisa memaksimumkan manfaat harapan mereka dengan bermigrasi. Secara singkat di sebutkan bahwa model migrasi dari Todaro menpunyai empat karakteristik utama yaitu sebagai berikut:
1. Migrasi terutama sekali di rangsang oleh pertimbangan ekonomis yang rasional.
2. Keputusan untuk bermigrasi lebih tergantung kepada perbedaan upah riil yang di harapkan dari pada yang terjadi antara pedesaan dan perkotaan.
3. Kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan di perkotaan berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran di perkotaan.
4. Tingkat migrasi yang melebihi tingkat pertumbuhan kesempatan kerja di perkotaan sangat mungkin terjadi.
3. Proses migrasi dan karakteristik para migran.
Mgrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah tertentu ke daerah lainnya. Migrasi ini di pengaruhi oleh banyak factor dan kompleks. Penekanan-penekanan tersebt antara lain di tujukan kepada.
1. Factor-faktr social
2. Factor-faktor fisikal
3. Factor-faktor demografis
4. Factor budaya
5. Factor-faktor komunikasi
MASALAH PENGANGGURAN
Pendapatan yang lazim di gunakan untuk mengukur tingkat penganguran di dasarkan pada pengertian angkatan kerja. Metode pengukuran ketenagakerjaan yang di pakai berasal dari Labor force Approach yang di perkealkan oleh ILO yang di gunakan d banyak Negara berkembang. Sejak tahun 1976 batasan waktu kerja dan periode refrensi yang di pakai sudah seragam, yaitu satu jam sehari dalam seminggu sebelum saat pencacahan. Beberapa pengertian yang berhubungan dengan pekerjaan adalah sebaga berikut :
1. Bekerja adalah mereka yang melakukan pekerjaan dengan tujuan memperoleh pendapatan.
2. Menganggur adalah mereka yang tidak menpunyai pekerjaan dalam kurun waktu seminggu sebelum pencacahan.
3. Bekerja tidak penuh adalah mereka yang bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu.
4. Kesempatan kerja adalah suatu tempat bagi seseorang angkatan kerja yang mendapatkan pekerjaan yang member imbalan.
5. Pendidikan adalah jenjang lamanya seseorang berada di sekolah formal.
MASALAH LINGKUNGAN HIDUP
Persoalan yang sering di kaitkan sebagai dampak dari pesatnya pertumbuhan penduduk dan meluasnya pengangguran adalah masalah lingkungan hidup. Sehingga muncul beragam pembahasan masalah kualitas lingkungan hingga konservasi lingkungan, dan sekarang masalah tersebut telah menjadi bagian penting dalam setiap pembicaraan baik di tingkat nasional maupun internasional. Lingungan hidup beralih dari permasalahan ilmiah menjadi masalah pemerintah.
1. Memelihara dan menghormati komunitas kehidupan.
Kita harus membagi dengan adil baik manfaat maupun biaya sumber daya yang digunakan serta biaya pelestarian lingkungan diantara masyarakat-masyarakat yang berbeda dan kelompok-kelompok yang bersangkutan, diantara mereka yang miskin dan kaya serta diantara generasi kita dan generasi yang akan datang sesudah kita.
2. Memperbaiki kualitas hidup manusia.
Tujuan pembangunan yang sesungguhnya adalah memperbaiki mutu hidup manusia. Ini sebuah proses yang memungkinkan manusia menyadari potensi mereka, membangun rasa percaya diri mereka, dan masuk ke kehidupan yang bermartabat dan berkecukupan.
3. Melestarikan daya hidup dan keragaman bumi.
Pembangunan yang berpijak pada pelestarian perlu disertai ke hati-hatian untuk melindungi struktur, fungsi, serta keragaman system yang alami, karena spesies kita sangat bergantung pada system-sistem tersebut. Prinsip ini menurut kita untuk :
1. Melestarikan system-sistem penunjang kehidupan, yaitu proses ekologi yang menjaga agar planet ini cocok untuk kehidupan.
2. Melestarikan keanekaragaman hayati, ini meliputi tidak saja semua spesies tumbuhan, hewan, dan organism lain, tetapi juga seluruh cadangan genetic dalam tiap spesies, dan keragaman ekosistem.
3. Menjamin agar penggunaan sumber-sumber daya yang dapat diperbaharui berkelanjutan. Sumber-sumber daya yang dapat diperbaharui mencakup tanah, organsme liar, dan peliharaan, hutan, padang pengembalaan, sawah dan ladang, serta laut dan ekosistem air tawar yang mendukung usaha perikanan.
4. Menghindari pemborosan sumber-sumber daya yang tak terbarukan.
Mineral, minyak, gas, dan batu bara praktis digolongkan sebagai sumber-sumber daya yang tak terbarukan. Tidak seperti tumbuhan, ikan, atau tanah, bahan-bahan ini tidak dapat digunakan secaa berkelanjutan
5. Berusaha tidak melampaui kapasitas daya dukung bumi
Batas-batas ini bervariasi antara daerah yang satu dan yang lainnya, dan tingkat gangguan bergantung pada beberapa orang disana, serta berapa banyaknya makanan, air, energy, dan bahan baku yang digunakan oleh tiap orang, juga limbah yang dihasilkan.
6. Mengubah sikap dan gaya hidup orang perorang
Masyarakat harus memperkenalkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan falsafah hidup berkelanjutan.
7. Mendukung kreatifitas masyarakat untuk memelihara lingkungan sendiri
Organisasi kemsyarakatan biasanya merupakan wadah yang paling mudah dimanfaatkan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang tinggi nilai sosialnya atau sebagai ajang untuk mengekspresikan kepedulian seseorang atau kelompok mengenai sesuatu. Menyediakan kerangka kerja nasional untuk memadukan upaya pembangunan dan pelestarian
8. Sebuah program nasional yang dimaksudkan untuk menciptakan kehidupan yang berkelanjutan dengan demikian harus melibatkan berbagai kepentingan, dan masalah-masalah yang bisa terjadi akibat perbenturan kpentingan-kepentingan itu harus dapat diketahui dan dicegah sebelum timbul.
pelaku ekonomi
Usaha Mikro Kecil Menengah Makanan
(Mie Ayam)
Disusun Oleh :
Nama : Firly Agustia
Kelas : 2 DD 04
NPM : 30208512
UNIVERSITAS GUNADARMA
Kata Pengantar
Dengan syukur dari allah SWT saya bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik. Perubahan Global dan era pasar bebas menunutun adanya penyesuaian di segala bidang,termasuk bidang kewirausahaan. Perubahan pasar merupakan hal yang mendasar yang terjadi pada bidang kewirausahaan. Dalam bahan ini juga digunakan sebagai pegangan setiap mahasiswa yang belajar kewirausahaan.
DAFTAR ISI
cover
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I. Aspek Kelembagaan
I.I. Latar Belakang Perusahaan (Usaha)
I.II. Tujuan Perusahaan
I.III. Informasi umum usaha
BAB II. Aspek Usaha
II.I. Jenis Usaha yang Dihasilkan
II.II. Cara Distribusi
BAB III. Rencana pemasaran
BAB IV. Rencana produksi
BAB V. Aspek keuangan
BAB VI. Penutup
BAB I
ASPEK KELEMBAGAAN
A. Latar Belakang Usaha
Alasan pemilihan usaha tersebut adalah sebagai berikut:
Mudah mendapatkan bahan baku dan membuat produknya.
B. Tujuan Perusahaan
Adapun tujuan dari pendirian usaha ini adalah sebagai berikut:
usaha ini didirikan di sebuah tempat dekat perumahan agar mudah mencari sasaran pasar.
C. Informasi Umum Usaha
Usaha ini didirikan untuk meraih keuntungan dan untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan. Setelah melihat dan mengamati salah satu pengusaha yang sukses menjual produk ini maka pemilik berkeinginan untuk mengembangkan usaha yang sama dengan kualitas pelayanan dan produksi yang lebih baik. Usaha ini selain memiliki ciri khas usaha yang merupakan kepemilikan perseorangan ini juga memberikan kualitas produk yang baik dan pelayanan yang sehat.
BAB II
DESKRIPSI UMUM USAHA
A. Nama dan Alamat Perusahaan :
Nama Perusahaan : Mie Ayam Bang Maman
Alamat Perusahaan : Jaka Permai
B. Nama dan Alamat Penanggungjawab
Penanggung jawab : Maman
C. Bentuk Perusahaan
Usaha Dagang Mie Ayam ini merupakan bentuk usaha perseorangan yang akan dijalankan sendiri dengan menggunakan modal sendiri pula.
D. Bidang Usaha
Usaha ini bergerak dalam bidang perdagangan yaitu perdagangan Mie Ayam
E. Kebutuhan Tenaga Kerja
- Tim Manajemen
Karena usaha ini di jalankan oleh sang pemilik sendiri,termasuk semua aspek di tangani sendiri, termasuk keungan dalam usahanya tersebut.
F. Kelebihan Produk dan Pelayanan Usaha
Sesuai dengan hasil survey yang telah kami lakukan. Mie ayam bang maman lumayan enak dan banyak peminatnya, pelayanannya pun cukup memuaskan dan bersih.
BAB III
RENCANA PEMASARAN
A. Hasil Analisis Pasar
1. Target Pasar atau Konsumen
Target pasar atau konsumen untuk usaha ini terutama adalah lapisan masyarakat disekitar perumahan Persada Kemala, Bekasi.
2. Situasi Persaingan
Dari hasil pengamatan, persaingan di usaha ini cukup kecil karena dalam satu wilayah pasar produk itu hanya mie aya bang Maman yang terdapat di tempat itu,tetapi kalau dilihat secara tempat atau lokasi kurang baik, karena berada di ujung jalan dan tidak terlalu terlihat dari jalan raya.
3. Strategi Pasar
Pemasaran secara langsung adalah melayani secara langsung pesanan dari para konsumen tanpa melalui perantara.
B. Masalah-Masalah yang Potensial Dalam Usaha
Kurangnya apresiasi dan pengetahuan bisnis
Saingan usaha tidak sejenis
Modal untuk mengelola usaha
C. Resiko yang Timbul dari Masalah Intern
- Kerusakan peralatan
- Kurangnya tenaga kerja
- Keterbatasan peralatan
D. Resiko yang Timbul dari Masalah Ekstern
- Ekonomi pelanggan
- Kurangnya pengetahuan
- Kurang maksimal dalam promosi
- Jumlah pelanggan
- Banyaknya pesaing
E. Tindakan Alternatif
a. Menyelesaikan Resiko Intern
- Perawatan peralatan yang cukup
- Memproduksi tidak berlebihan
b. Menyelesaikan Resiko Ekstern
- Mengutamakan kualitas barang produksi
- Mengutamakan pelayanan prima
- Memaksimalkan upaya promosi
F. Pengembangan Usaha
Untuk pengembangan usaha ini dapat dilakukan dengan cara-cara sbb :
- Meningkatkan upaya promosi
- Memperluas wilayah pemasaran
- Memperbaiki kualitas produk
BAB IV
RENCANA PRODUKSI
A. Analisis Lokasi Usaha
Lokasi produksi yang mudah dijangkau, diharapkan mampu memberikan peluang bagi berkembangnya usaha ini. Hal lain yang menunjang karena adanya promosi yang dilakukan,biasanya promosi itu dari mulut ke mulut yang berawal dari pelanggan tetap.
B. Bahan-bahan Produksi :
1. Mie
2. Daun bawang
3. kecap asin
4. Minyak bawang
5. saus
6. Sawi
7. ayam bumbu kecap
C. Peralatan dan Perlengkapan :
1. Kompor
2. Panci
3. Sumpit
4. Garpu
5. Sendok
6. Mangkok
7. Pisau
D. Proses Produksi
- Rebus Mie selama 5 menit, lalu masukkan sawi ke dalam rebusan tersebut, kemudian siapkan mangkok yang di beri kecap asin dan minyak bawang, setelah mie matang tiriskan dalam mangkok yang sudah disediakan,dan yang terakhir beri ayam kecap dan pangsit, lalu hidangkan.
BAB V
ASPEK KEUANGAN
Karena usaha dijalankan dengan sendiri, maka keuangannya pun tidak memerlukan manajemen khusus. Jadi pengaturan keuangannya diatur sendiri oleh si pemilik harga 1 produknya, yaitu seharga Rp 6.000, rata-rata penjuslsn per hari =Rp 6.000 x 50 mangkok =Rp 300.000
Berikut adalah biaya-biaya bahan baku yang dibutuhkan :
1. Mie per hari 5kg = Rp 3.000 x 5 =Rp 15.000
2. Daun bawang per hari =Rp 4.000
3. Sawi per hari =Rp 5.000
4. Saus per hari,4 btl x Rp 2.500 =Rp 10.000
5. Kecap asin per hari, 2 btl x Rp 3.500 =Rp 7.000
6. Ayam 1 ekor =Rp 20.000
7. Persediaan bahan baku yang lain atau bumbu-bumbu =Rp 10.000 +
=Rp 81.000
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
membuat usaha yang simpel dan tidak memerlukan biaya yang sangat banyak, sehingga keuntungan pun juga bisa di dapat dengan mudah.
B. Saran
Usaha ini diharapkan dapat mengembangkan usahanya dengan cara promosi yang lebih efektif dan selalu menjaga cita rasa serta kebersihan dalam mengolah makanan yang akan dihidangkan.
(Mie Ayam)
Disusun Oleh :
Nama : Firly Agustia
Kelas : 2 DD 04
NPM : 30208512
UNIVERSITAS GUNADARMA
Kata Pengantar
Dengan syukur dari allah SWT saya bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik. Perubahan Global dan era pasar bebas menunutun adanya penyesuaian di segala bidang,termasuk bidang kewirausahaan. Perubahan pasar merupakan hal yang mendasar yang terjadi pada bidang kewirausahaan. Dalam bahan ini juga digunakan sebagai pegangan setiap mahasiswa yang belajar kewirausahaan.
DAFTAR ISI
cover
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I. Aspek Kelembagaan
I.I. Latar Belakang Perusahaan (Usaha)
I.II. Tujuan Perusahaan
I.III. Informasi umum usaha
BAB II. Aspek Usaha
II.I. Jenis Usaha yang Dihasilkan
II.II. Cara Distribusi
BAB III. Rencana pemasaran
BAB IV. Rencana produksi
BAB V. Aspek keuangan
BAB VI. Penutup
BAB I
ASPEK KELEMBAGAAN
A. Latar Belakang Usaha
Alasan pemilihan usaha tersebut adalah sebagai berikut:
Mudah mendapatkan bahan baku dan membuat produknya.
B. Tujuan Perusahaan
Adapun tujuan dari pendirian usaha ini adalah sebagai berikut:
usaha ini didirikan di sebuah tempat dekat perumahan agar mudah mencari sasaran pasar.
C. Informasi Umum Usaha
Usaha ini didirikan untuk meraih keuntungan dan untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan. Setelah melihat dan mengamati salah satu pengusaha yang sukses menjual produk ini maka pemilik berkeinginan untuk mengembangkan usaha yang sama dengan kualitas pelayanan dan produksi yang lebih baik. Usaha ini selain memiliki ciri khas usaha yang merupakan kepemilikan perseorangan ini juga memberikan kualitas produk yang baik dan pelayanan yang sehat.
BAB II
DESKRIPSI UMUM USAHA
A. Nama dan Alamat Perusahaan :
Nama Perusahaan : Mie Ayam Bang Maman
Alamat Perusahaan : Jaka Permai
B. Nama dan Alamat Penanggungjawab
Penanggung jawab : Maman
C. Bentuk Perusahaan
Usaha Dagang Mie Ayam ini merupakan bentuk usaha perseorangan yang akan dijalankan sendiri dengan menggunakan modal sendiri pula.
D. Bidang Usaha
Usaha ini bergerak dalam bidang perdagangan yaitu perdagangan Mie Ayam
E. Kebutuhan Tenaga Kerja
- Tim Manajemen
Karena usaha ini di jalankan oleh sang pemilik sendiri,termasuk semua aspek di tangani sendiri, termasuk keungan dalam usahanya tersebut.
F. Kelebihan Produk dan Pelayanan Usaha
Sesuai dengan hasil survey yang telah kami lakukan. Mie ayam bang maman lumayan enak dan banyak peminatnya, pelayanannya pun cukup memuaskan dan bersih.
BAB III
RENCANA PEMASARAN
A. Hasil Analisis Pasar
1. Target Pasar atau Konsumen
Target pasar atau konsumen untuk usaha ini terutama adalah lapisan masyarakat disekitar perumahan Persada Kemala, Bekasi.
2. Situasi Persaingan
Dari hasil pengamatan, persaingan di usaha ini cukup kecil karena dalam satu wilayah pasar produk itu hanya mie aya bang Maman yang terdapat di tempat itu,tetapi kalau dilihat secara tempat atau lokasi kurang baik, karena berada di ujung jalan dan tidak terlalu terlihat dari jalan raya.
3. Strategi Pasar
Pemasaran secara langsung adalah melayani secara langsung pesanan dari para konsumen tanpa melalui perantara.
B. Masalah-Masalah yang Potensial Dalam Usaha
Kurangnya apresiasi dan pengetahuan bisnis
Saingan usaha tidak sejenis
Modal untuk mengelola usaha
C. Resiko yang Timbul dari Masalah Intern
- Kerusakan peralatan
- Kurangnya tenaga kerja
- Keterbatasan peralatan
D. Resiko yang Timbul dari Masalah Ekstern
- Ekonomi pelanggan
- Kurangnya pengetahuan
- Kurang maksimal dalam promosi
- Jumlah pelanggan
- Banyaknya pesaing
E. Tindakan Alternatif
a. Menyelesaikan Resiko Intern
- Perawatan peralatan yang cukup
- Memproduksi tidak berlebihan
b. Menyelesaikan Resiko Ekstern
- Mengutamakan kualitas barang produksi
- Mengutamakan pelayanan prima
- Memaksimalkan upaya promosi
F. Pengembangan Usaha
Untuk pengembangan usaha ini dapat dilakukan dengan cara-cara sbb :
- Meningkatkan upaya promosi
- Memperluas wilayah pemasaran
- Memperbaiki kualitas produk
BAB IV
RENCANA PRODUKSI
A. Analisis Lokasi Usaha
Lokasi produksi yang mudah dijangkau, diharapkan mampu memberikan peluang bagi berkembangnya usaha ini. Hal lain yang menunjang karena adanya promosi yang dilakukan,biasanya promosi itu dari mulut ke mulut yang berawal dari pelanggan tetap.
B. Bahan-bahan Produksi :
1. Mie
2. Daun bawang
3. kecap asin
4. Minyak bawang
5. saus
6. Sawi
7. ayam bumbu kecap
C. Peralatan dan Perlengkapan :
1. Kompor
2. Panci
3. Sumpit
4. Garpu
5. Sendok
6. Mangkok
7. Pisau
D. Proses Produksi
- Rebus Mie selama 5 menit, lalu masukkan sawi ke dalam rebusan tersebut, kemudian siapkan mangkok yang di beri kecap asin dan minyak bawang, setelah mie matang tiriskan dalam mangkok yang sudah disediakan,dan yang terakhir beri ayam kecap dan pangsit, lalu hidangkan.
BAB V
ASPEK KEUANGAN
Karena usaha dijalankan dengan sendiri, maka keuangannya pun tidak memerlukan manajemen khusus. Jadi pengaturan keuangannya diatur sendiri oleh si pemilik harga 1 produknya, yaitu seharga Rp 6.000, rata-rata penjuslsn per hari =Rp 6.000 x 50 mangkok =Rp 300.000
Berikut adalah biaya-biaya bahan baku yang dibutuhkan :
1. Mie per hari 5kg = Rp 3.000 x 5 =Rp 15.000
2. Daun bawang per hari =Rp 4.000
3. Sawi per hari =Rp 5.000
4. Saus per hari,4 btl x Rp 2.500 =Rp 10.000
5. Kecap asin per hari, 2 btl x Rp 3.500 =Rp 7.000
6. Ayam 1 ekor =Rp 20.000
7. Persediaan bahan baku yang lain atau bumbu-bumbu =Rp 10.000 +
=Rp 81.000
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
membuat usaha yang simpel dan tidak memerlukan biaya yang sangat banyak, sehingga keuntungan pun juga bisa di dapat dengan mudah.
B. Saran
Usaha ini diharapkan dapat mengembangkan usahanya dengan cara promosi yang lebih efektif dan selalu menjaga cita rasa serta kebersihan dalam mengolah makanan yang akan dihidangkan.
pelaku ekonomi
Usaha Mikro Kecil Menengah Makanan
(Mie Ayam)
Disusun Oleh :
Nama : Firly Agustia
Kelas : 2 DD 04
NPM : 30208512
UNIVERSITAS GUNADARMA
Kata Pengantar
Dengan syukur dari allah SWT saya bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik. Perubahan Global dan era pasar bebas menunutun adanya penyesuaian di segala bidang,termasuk bidang kewirausahaan. Perubahan pasar merupakan hal yang mendasar yang terjadi pada bidang kewirausahaan. Dalam bahan ini juga digunakan sebagai pegangan setiap mahasiswa yang belajar kewirausahaan.
DAFTAR ISI
cover
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I. Aspek Kelembagaan
I.I. Latar Belakang Perusahaan (Usaha)
I.II. Tujuan Perusahaan
I.III. Informasi umum usaha
BAB II. Aspek Usaha
II.I. Jenis Usaha yang Dihasilkan
II.II. Cara Distribusi
BAB III. Rencana pemasaran
BAB IV. Rencana produksi
BAB V. Aspek keuangan
BAB VI. Penutup
BAB I
ASPEK KELEMBAGAAN
A. Latar Belakang Usaha
Alasan pemilihan usaha tersebut adalah sebagai berikut:
Mudah mendapatkan bahan baku dan membuat produknya.
B. Tujuan Perusahaan
Adapun tujuan dari pendirian usaha ini adalah sebagai berikut:
usaha ini didirikan di sebuah tempat dekat perumahan agar mudah mencari sasaran pasar.
C. Informasi Umum Usaha
Usaha ini didirikan untuk meraih keuntungan dan untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan. Setelah melihat dan mengamati salah satu pengusaha yang sukses menjual produk ini maka pemilik berkeinginan untuk mengembangkan usaha yang sama dengan kualitas pelayanan dan produksi yang lebih baik. Usaha ini selain memiliki ciri khas usaha yang merupakan kepemilikan perseorangan ini juga memberikan kualitas produk yang baik dan pelayanan yang sehat.
BAB II
DESKRIPSI UMUM USAHA
A. Nama dan Alamat Perusahaan :
Nama Perusahaan : Mie Ayam Bang Maman
Alamat Perusahaan : Jaka Permai
B. Nama dan Alamat Penanggungjawab
Penanggung jawab : Maman
C. Bentuk Perusahaan
Usaha Dagang Mie Ayam ini merupakan bentuk usaha perseorangan yang akan dijalankan sendiri dengan menggunakan modal sendiri pula.
D. Bidang Usaha
Usaha ini bergerak dalam bidang perdagangan yaitu perdagangan Mie Ayam
E. Kebutuhan Tenaga Kerja
- Tim Manajemen
Karena usaha ini di jalankan oleh sang pemilik sendiri,termasuk semua aspek di tangani sendiri, termasuk keungan dalam usahanya tersebut.
F. Kelebihan Produk dan Pelayanan Usaha
Sesuai dengan hasil survey yang telah kami lakukan. Mie ayam bang maman lumayan enak dan banyak peminatnya, pelayanannya pun cukup memuaskan dan bersih.
BAB III
RENCANA PEMASARAN
A. Hasil Analisis Pasar
1. Target Pasar atau Konsumen
Target pasar atau konsumen untuk usaha ini terutama adalah lapisan masyarakat disekitar perumahan Persada Kemala, Bekasi.
2. Situasi Persaingan
Dari hasil pengamatan, persaingan di usaha ini cukup kecil karena dalam satu wilayah pasar produk itu hanya mie aya bang Maman yang terdapat di tempat itu,tetapi kalau dilihat secara tempat atau lokasi kurang baik, karena berada di ujung jalan dan tidak terlalu terlihat dari jalan raya.
3. Strategi Pasar
Pemasaran secara langsung adalah melayani secara langsung pesanan dari para konsumen tanpa melalui perantara.
B. Masalah-Masalah yang Potensial Dalam Usaha
Kurangnya apresiasi dan pengetahuan bisnis
Saingan usaha tidak sejenis
Modal untuk mengelola usaha
C. Resiko yang Timbul dari Masalah Intern
- Kerusakan peralatan
- Kurangnya tenaga kerja
- Keterbatasan peralatan
D. Resiko yang Timbul dari Masalah Ekstern
- Ekonomi pelanggan
- Kurangnya pengetahuan
- Kurang maksimal dalam promosi
- Jumlah pelanggan
- Banyaknya pesaing
E. Tindakan Alternatif
a. Menyelesaikan Resiko Intern
- Perawatan peralatan yang cukup
- Memproduksi tidak berlebihan
b. Menyelesaikan Resiko Ekstern
- Mengutamakan kualitas barang produksi
- Mengutamakan pelayanan prima
- Memaksimalkan upaya promosi
F. Pengembangan Usaha
Untuk pengembangan usaha ini dapat dilakukan dengan cara-cara sbb :
- Meningkatkan upaya promosi
- Memperluas wilayah pemasaran
- Memperbaiki kualitas produk
BAB IV
RENCANA PRODUKSI
A. Analisis Lokasi Usaha
Lokasi produksi yang mudah dijangkau, diharapkan mampu memberikan peluang bagi berkembangnya usaha ini. Hal lain yang menunjang karena adanya promosi yang dilakukan,biasanya promosi itu dari mulut ke mulut yang berawal dari pelanggan tetap.
B. Bahan-bahan Produksi :
1. Mie
2. Daun bawang
3. kecap asin
4. Minyak bawang
5. saus
6. Sawi
7. ayam bumbu kecap
C. Peralatan dan Perlengkapan :
1. Kompor
2. Panci
3. Sumpit
4. Garpu
5. Sendok
6. Mangkok
7. Pisau
D. Proses Produksi
- Rebus Mie selama 5 menit, lalu masukkan sawi ke dalam rebusan tersebut, kemudian siapkan mangkok yang di beri kecap asin dan minyak bawang, setelah mie matang tiriskan dalam mangkok yang sudah disediakan,dan yang terakhir beri ayam kecap dan pangsit, lalu hidangkan.
BAB V
ASPEK KEUANGAN
Karena usaha dijalankan dengan sendiri, maka keuangannya pun tidak memerlukan manajemen khusus. Jadi pengaturan keuangannya diatur sendiri oleh si pemilik harga 1 produknya, yaitu seharga Rp 6.000, rata-rata penjuslsn per hari =Rp 6.000 x 50 mangkok =Rp 300.000
Berikut adalah biaya-biaya bahan baku yang dibutuhkan :
1. Mie per hari 5kg = Rp 3.000 x 5 =Rp 15.000
2. Daun bawang per hari =Rp 4.000
3. Sawi per hari =Rp 5.000
4. Saus per hari,4 btl x Rp 2.500 =Rp 10.000
5. Kecap asin per hari, 2 btl x Rp 3.500 =Rp 7.000
6. Ayam 1 ekor =Rp 20.000
7. Persediaan bahan baku yang lain atau bumbu-bumbu =Rp 10.000 +
=Rp 81.000
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
membuat usaha yang simpel dan tidak memerlukan biaya yang sangat banyak, sehingga keuntungan pun juga bisa di dapat dengan mudah.
B. Saran
Usaha ini diharapkan dapat mengembangkan usahanya dengan cara promosi yang lebih efektif dan selalu menjaga cita rasa serta kebersihan dalam mengolah makanan yang akan dihidangkan.
(Mie Ayam)
Disusun Oleh :
Nama : Firly Agustia
Kelas : 2 DD 04
NPM : 30208512
UNIVERSITAS GUNADARMA
Kata Pengantar
Dengan syukur dari allah SWT saya bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik. Perubahan Global dan era pasar bebas menunutun adanya penyesuaian di segala bidang,termasuk bidang kewirausahaan. Perubahan pasar merupakan hal yang mendasar yang terjadi pada bidang kewirausahaan. Dalam bahan ini juga digunakan sebagai pegangan setiap mahasiswa yang belajar kewirausahaan.
DAFTAR ISI
cover
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I. Aspek Kelembagaan
I.I. Latar Belakang Perusahaan (Usaha)
I.II. Tujuan Perusahaan
I.III. Informasi umum usaha
BAB II. Aspek Usaha
II.I. Jenis Usaha yang Dihasilkan
II.II. Cara Distribusi
BAB III. Rencana pemasaran
BAB IV. Rencana produksi
BAB V. Aspek keuangan
BAB VI. Penutup
BAB I
ASPEK KELEMBAGAAN
A. Latar Belakang Usaha
Alasan pemilihan usaha tersebut adalah sebagai berikut:
Mudah mendapatkan bahan baku dan membuat produknya.
B. Tujuan Perusahaan
Adapun tujuan dari pendirian usaha ini adalah sebagai berikut:
usaha ini didirikan di sebuah tempat dekat perumahan agar mudah mencari sasaran pasar.
C. Informasi Umum Usaha
Usaha ini didirikan untuk meraih keuntungan dan untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan. Setelah melihat dan mengamati salah satu pengusaha yang sukses menjual produk ini maka pemilik berkeinginan untuk mengembangkan usaha yang sama dengan kualitas pelayanan dan produksi yang lebih baik. Usaha ini selain memiliki ciri khas usaha yang merupakan kepemilikan perseorangan ini juga memberikan kualitas produk yang baik dan pelayanan yang sehat.
BAB II
DESKRIPSI UMUM USAHA
A. Nama dan Alamat Perusahaan :
Nama Perusahaan : Mie Ayam Bang Maman
Alamat Perusahaan : Jaka Permai
B. Nama dan Alamat Penanggungjawab
Penanggung jawab : Maman
C. Bentuk Perusahaan
Usaha Dagang Mie Ayam ini merupakan bentuk usaha perseorangan yang akan dijalankan sendiri dengan menggunakan modal sendiri pula.
D. Bidang Usaha
Usaha ini bergerak dalam bidang perdagangan yaitu perdagangan Mie Ayam
E. Kebutuhan Tenaga Kerja
- Tim Manajemen
Karena usaha ini di jalankan oleh sang pemilik sendiri,termasuk semua aspek di tangani sendiri, termasuk keungan dalam usahanya tersebut.
F. Kelebihan Produk dan Pelayanan Usaha
Sesuai dengan hasil survey yang telah kami lakukan. Mie ayam bang maman lumayan enak dan banyak peminatnya, pelayanannya pun cukup memuaskan dan bersih.
BAB III
RENCANA PEMASARAN
A. Hasil Analisis Pasar
1. Target Pasar atau Konsumen
Target pasar atau konsumen untuk usaha ini terutama adalah lapisan masyarakat disekitar perumahan Persada Kemala, Bekasi.
2. Situasi Persaingan
Dari hasil pengamatan, persaingan di usaha ini cukup kecil karena dalam satu wilayah pasar produk itu hanya mie aya bang Maman yang terdapat di tempat itu,tetapi kalau dilihat secara tempat atau lokasi kurang baik, karena berada di ujung jalan dan tidak terlalu terlihat dari jalan raya.
3. Strategi Pasar
Pemasaran secara langsung adalah melayani secara langsung pesanan dari para konsumen tanpa melalui perantara.
B. Masalah-Masalah yang Potensial Dalam Usaha
Kurangnya apresiasi dan pengetahuan bisnis
Saingan usaha tidak sejenis
Modal untuk mengelola usaha
C. Resiko yang Timbul dari Masalah Intern
- Kerusakan peralatan
- Kurangnya tenaga kerja
- Keterbatasan peralatan
D. Resiko yang Timbul dari Masalah Ekstern
- Ekonomi pelanggan
- Kurangnya pengetahuan
- Kurang maksimal dalam promosi
- Jumlah pelanggan
- Banyaknya pesaing
E. Tindakan Alternatif
a. Menyelesaikan Resiko Intern
- Perawatan peralatan yang cukup
- Memproduksi tidak berlebihan
b. Menyelesaikan Resiko Ekstern
- Mengutamakan kualitas barang produksi
- Mengutamakan pelayanan prima
- Memaksimalkan upaya promosi
F. Pengembangan Usaha
Untuk pengembangan usaha ini dapat dilakukan dengan cara-cara sbb :
- Meningkatkan upaya promosi
- Memperluas wilayah pemasaran
- Memperbaiki kualitas produk
BAB IV
RENCANA PRODUKSI
A. Analisis Lokasi Usaha
Lokasi produksi yang mudah dijangkau, diharapkan mampu memberikan peluang bagi berkembangnya usaha ini. Hal lain yang menunjang karena adanya promosi yang dilakukan,biasanya promosi itu dari mulut ke mulut yang berawal dari pelanggan tetap.
B. Bahan-bahan Produksi :
1. Mie
2. Daun bawang
3. kecap asin
4. Minyak bawang
5. saus
6. Sawi
7. ayam bumbu kecap
C. Peralatan dan Perlengkapan :
1. Kompor
2. Panci
3. Sumpit
4. Garpu
5. Sendok
6. Mangkok
7. Pisau
D. Proses Produksi
- Rebus Mie selama 5 menit, lalu masukkan sawi ke dalam rebusan tersebut, kemudian siapkan mangkok yang di beri kecap asin dan minyak bawang, setelah mie matang tiriskan dalam mangkok yang sudah disediakan,dan yang terakhir beri ayam kecap dan pangsit, lalu hidangkan.
BAB V
ASPEK KEUANGAN
Karena usaha dijalankan dengan sendiri, maka keuangannya pun tidak memerlukan manajemen khusus. Jadi pengaturan keuangannya diatur sendiri oleh si pemilik harga 1 produknya, yaitu seharga Rp 6.000, rata-rata penjuslsn per hari =Rp 6.000 x 50 mangkok =Rp 300.000
Berikut adalah biaya-biaya bahan baku yang dibutuhkan :
1. Mie per hari 5kg = Rp 3.000 x 5 =Rp 15.000
2. Daun bawang per hari =Rp 4.000
3. Sawi per hari =Rp 5.000
4. Saus per hari,4 btl x Rp 2.500 =Rp 10.000
5. Kecap asin per hari, 2 btl x Rp 3.500 =Rp 7.000
6. Ayam 1 ekor =Rp 20.000
7. Persediaan bahan baku yang lain atau bumbu-bumbu =Rp 10.000 +
=Rp 81.000
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
membuat usaha yang simpel dan tidak memerlukan biaya yang sangat banyak, sehingga keuntungan pun juga bisa di dapat dengan mudah.
B. Saran
Usaha ini diharapkan dapat mengembangkan usahanya dengan cara promosi yang lebih efektif dan selalu menjaga cita rasa serta kebersihan dalam mengolah makanan yang akan dihidangkan.
Langganan:
Komentar (Atom)