Rabu, 25 November 2009

BAB 5
DUALIESME MASYARAKAT DAN DUALISME EKONOMI

PENDAHULUAN
• Dualisme artinya bahwa dalam waktu yang sama di dalam masyarakat terdapat dua gaya social yang jelas berbeda satu sama lain, dan masing – masing berkembang secara penuh serta saling mempengaruhi. Dalam dualisme masyarakat, salah satu system social yang menonjol biasanya termaju, diimpor dari luar negri dan hidup dalam lingkungan baru tanpa berhaasil menyisihkan atau menyerap system social lain yang telah lama tumbuh disitu. Akibatnya, dari system kedua ini tdak ada yang meluas, dan malah keduanya menjadi ciri khas masyarakat yang bersangkutan.
• Dualisme ekonomi yaitu kegiatan ekonomi dan keadaan ekonomi serta keadaan yang lain dalam masa tertentu, atau dalam suatu sector ekonomi tertentu ysng memiliki sifat tidak seragam.
• Dualisme ekonomi ini dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu ekonomi tradisional dan ekonomi modern.
• Kelompok ekonomi tradisional berarti kegiatan ataupun keadaan ekonomi yang ada masih dikuasai oleh unsur ketradisionalan.
• Kelompok ekonomi modern, berarti berbagai kegiatan dan keadaan ekonomi yang sedang berlangsung dikuasai oleh unsur – unsur yang bersifat modern.
• Menurut Boeke (1953), dualism social adalah bahwa dalam masyarakat terdapat dua system yang berbeda, dan keduanya hidup saling berdampingan.
• Pakar ekonomi Myint (1967) dan Higgins (1968) mengamati adanya dualism teknologi. Mereka berpendapat bahwa dualism teknologi adalah suatu keadaan dimana di dalam suatu bidang kegiatan ekonomi digunakan teknologi dan organisasi produksi yang mengkutub.
• Selanjutnya, Arthur Lewis (1970), kemudian John Fei, dan Gustaf Ranis (1975) mengemukakan anggapan dualitas social ekonomi dalam pembangunan dan pertumbuhan di Negara – Negara yang kelebihan tenaga kerja. Menurut konsep ini, kelebihan tenaga kerja bias di alihkan dar sector tradisional yang subsisten untuk meningkatkan produksi non pertanian.
• Sementara Todaro (1978) mengatakan bahwa konsepsidualisme semacam ini telah menjadi bahan pembicaraan secara luas dalam ekonomika pembangunan menunjukan adanya beberapa elemen dalam ekonomika pembangunan.

FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB DUALISME

• Ada empat factor yang melatar belakangi atau menjadi sebab lahirnya dualisme ekonomi, yaitu :
• Adanya kebijakan yang memiliki dua dimensi, yaitu kebijakan untuk mempertahankan agar surplus sector pertanian tetap berada di dalam negri daripada dibawa ke luar negri seperti masa penjajahan.kebijakan untuk mengalihkan surplus sector pertanian ini ke sector industry, dan ekspor seperti semula.
• Adanya pengaruj dari pola perumbuhan ekonomi terutama yang terjadi di Negara – Negara asia.
• Hal yang menyangkut ratio antara manusia dan tanah.
• Lemahnya perekonomian nasonal.

DUALISME DI NEGARA SEDANG BERKEMBANG

• Adanya berbagai macam dualitas tersebut menimbulkan keadaan yang menyebabkan mekanisme pasar tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
• Ciri ekonomial adalah adanya dualism anatara kota yang maju dan tempat lokasi industri barang konsumsi dengan desa yang terbelakang tempat dominasi tenaga kerja berlebih.
• Sektor ekonomi yang telah mendapat proteksi lambat laun cenderung menggunakan teknologi padat modal dari luar negeri.

STRATEGI MENGATASI DUALISME

• Tidak ada cara terbaik ntuk mengatasi dualism, kecuali melalui strategi pembangunan yang konkrit dan terencana.oleh karena itu persoalan mendasar yang melekat pada masalah dualisme bias jadi lebih dominan pada dimensi sejarah yang melahirkan dualisme itu sendiri.


• Strategi redistribusi dengan perubahan (redistribution with growth) juga berusaha menggabungkan usaha pemerataan dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Penekanan strategi ini adalah penyaluran kembali (realokasi) dana – dana investasi baru, terutama dari pemerintah kegolongan penduduk yang paling miskin, sehingga mereka dapat memupuk harta produktf yang dapat meningkatkan produktifitas dan pendapatan mereka.
BAB 6
MASALAH KEMISKINAN DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

PENDAHULUAN

• Masalah kemiskinan ternyata teramat kompleks dan pemecahan – pemecahannya pun tidak terlalu mudah.
• Masalah kemiskinan muncul karena ada sekelompok anggota masyarakat yang secaara structural tidak mempunyai peluang dan kemampuan yang memadai untuk mencapai tingkat kehidupan yang layak. Akibatnya, ia harus mengakui keunggulan kelompok masyarakat lainnya dalam pencarian nafkah dan pemlikan asset produktif, sehngga semakin lama semakin tertinggal. Dalam prosesnya gejala tersebut memunculkan persoalan baru yani ketimpangan distribusi pendapatan.

KAITAN KEMISINAN DENGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

• Kaitan kemskinan dengan distribusi pendapatan secara sederhana dapat dilukiskan dengan menggunakan kerangka kemungkinan produksi (the productin possibility framework).
• Produksi dalam hipotesis perekonomian yang sedang berkembang dibagi menjadi duakelompok barang.pertama, barang kebtuhan pokok, seperti makanan pokok, pakaian dan tempat tinggal. Kedua, barang konsumsi mewah.

BERBAGAI DIMENSI MASALAH KEMISKINAN

• Ciri – ciri kemiskinan :
1. Kemiskinan multidimensional, artinya karena kebutuhan manusia itu bermacam – macam, maka kemiskinan pun memiliki banyak aspek.
2. Aspek – aspek kemiskinan saling berkaitan, bak sacara langsung maupun tidak langsung.
3. Bahwa yang miskin adalah manusianya, baik secara individual maupun kolektif.
• Para pemikir tentang kemiskinan kebanyakan melihat kemiskinan sebagai kemisknan structural. Kemiskinan structural ialah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur social masyarakat tersebut tidak dapat ikut menggunakan sumber – sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia untuk mereka.
• Kemiskinan absolute diartian sebagai keadaan masyarakat atau individu denganuran kebutuhan minimum(substance_ dalam memenuhi hidup dan terletak dibawah garis kemiskinan (provelity lines) menggunakan criteria tertentu.

KRITERIA KEMISKINAN

• Untuk menetukan status kemiskinan suatu desa diperlukan suatu indicator komposit baku yang merupakan gabungan dari berbagai factor yang menunjukkan ciri – cirri kemiskinan, yang dipilih dan diolah dari 27 variabel dalam 3 kelompok, yaitu : 1. Potensi desa(podes) dan fasilitas desa, 2. Keaaan perumahan dan lingkungan, dan 3. Keadaan penduduknya.

DISTRIBUSI PENDAPATAN

• Distrbusi pendapatan perorangan atau distribusi ukuran adalah yang paling umum digunakan oleh para ekonom.
• Distribusi fungsional adalah bagian dari pendapatan nasional yang diterima oleh masing – masing factor produksi. Teori distribusi pendapatan fungsional merupakan persenase dari penghasilan tenaga kerja secara keseluruhan

STUDI TENTANG DISTRIBUSI PENDAPATAN DI INDONESIA

• Pertama, data pengeluaran. Pengukuran ketimpangan distribusi pendapatan di Indonesia diawali oleh R. M. Sundrum pada tahun 1973. Ia memperkirakan besarnya indeks Gini Indonesia( tidak termasuk Jakarta) untuk tahun 1964-2965 sebesar 0,389 berdasarkan data pengeluaran konsumsi masyarakat.
• Kedua, data pendapatan. Penelitian distribusi pendapatan berdasarkan jenis data pendapatan dirintis oleh Irlan Sujono dan Ahmad T. Birowo. Mereka dengan menggunakan data dari survey khusus mendapatkan angka koefisien Gini untuk daerah pedesaan jawa tengah 0,533 pada tahun 1968 dan 0,495 pada tahun 1973/75. Penurunan indeks Gini ini menunjukkan adanya perbakan pemerataan pendapatan di pedesaan jawa tengah.

• Ketiga, ekoonomi makro. Syamaprasad Gupta, dengan memakai model ekonomi dalam penelitiannya dan dengan memakai data dari ekonomi makro mendapatkan indeks Gini untuk Indonesia 0,422. Gupta kemudian mengistemasi indeks Gini tahun 1985 dan 1997, masing –masing 0,545 dan 0,561.
• Keempat, Sistem Neraca Nasional Indonesia (SNSE). Slamet Sutomo dan Nina Sari Sulistini(1987), dengan memakai SNSE berusaha mengetahui pola penerimaan dan pengeluaran rumah tangga, dan keadaan distribusi pendapatan.

1 komentar:

  1. Luar biasa.... saya terbantu sekali untuk mendapatkan informasi mengenai dualisme ekonomi dari beberapa pakar ekonomi

    BalasHapus